Friday, February 12, 2016

Pantaskah Anda Merayakan Valentine day?



Sebagai seorang muslim seharusnya kita sadar bahwa Valentine day itu bukanlan salah satu dari ajaran Islam. Karena Valentine day adalah budaya umat nasrani yang hingga saat ini diabadikan sampai-sampai banyak pemuda muslim yang tidak mengerti akan asal muasal valentine day menganggab itu adalah suatu budaya. Padahal itu sangat jauh dari ajaran Islam.
Bukan berarti Islam tidak mengajarkan kita untuk mengasihi dan menyayangi satu sama lain, bahkan Islam mengajarkan kita untuk menyayangi bukan hanya manusia akan tetapi Islam menganjurkan penganutnya untuk menyayangi semua makhluk baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan. Kalau bicara masalah kasih sayang maka Islam lebih dahulu mengajarkan kepada kita, akan tetapi bukan hanya satu hari saja melainkan setiap hari kita harus menyayangi sesama. Sehingga kita bisa aman berada di manapun.


Valentine day merupakan istilah sangat dinanti-nantikan oleh   pemuda-pemudi untuk mengekspresikan hasrat kasih sayang mereka. Hari yang diabadikan setiap empat belas Februari ini, senantiasa disambut dan dirayakan oleh kawula muda sebagai bagian dari bentuk manifestasi rasa cinta dan kasih sayang. Inilah yang yang tak diinginkan Islam. Saking percayanya dengan ajaran ini kaum pemudi banyak diantara  mereka merelakan keperawanannya kepada pasangan yang belum halal baginya. Sehingga peringatan ini meninggalkan noda berupa aib bagi keluarganya dan dirinya.
Kita wajib menyayangi  siapapun tapi dalam batas-batas yang wajar bukan harus menyerahkan sesuatu yang berharga baginya kepada pasangannya yang belum halal baginya. Sebagai umat Islam hendaklah kita sadar bahwa Valentine day tidak patut kita ikuti karena bukan ajaran Islam dan didalamnya mengandung hal-hal yang negatif.  Hendaklah kita saling mengingatkan kepada saudara-saudara kita agar tidak memperingati valentine day, baik itu mengucapkan selamat maupum memberi hadiah atas dasar memperingati valentine day.

Sebagai pemuda muslim hendaklah kita tinggalkan kebiasaan ini karena malu kita sebagai umat muslim mengikuti ajaran nasrani. Sedangkan dalam ibadah saja sesuatu yang bid’ah disuruh meninggalkan apalagi sesuatu yang ajaranya dari ajaran nasrani.

Dalam tulisan ini akan mengupas sedikit asal mula valentine day supaya kita sebagai umat Islam tau bahwa Valentine day berasal bakuan dari ajaran Islam.

Asal-Usul Hari Valentine Day

Uskup Valentin adalah seorang yang dianggap Santo (orang yang dianggap suci untuk agama Katolik) yang menggantikan seorang dewa yang bernama Lupercus sebagai dewa kesuburan, padang rumput dan hewan ternak serta penyayang. Penyembahan dewa Lupercus sudah menjadi bagian tradisi upacara keagamaan Romawi pada masa itu.

Yang paling aneh dari tradisi upacara keagamaan itu diselingi penarikan undian dalam rangka mencari pasangan yang namanya sudah tertulis dalam sebuah kotak undian.

Setelah penarikan undian, maka mereka bebas untuk melakukan hubungan seksual dalam waktu yang sudah ditentukan. Setelah mereka bosan dan sudah terpenuhi kebutuhan nafsu syahwatnya. Mereka pun kembali menarik undian untuk mencari pasangan yang baru lagi, yang kemudian diperlakukan dengan perbuatan yang sama bejatnya. Begitulah tradisi keagamaan ini berlangsung selama berabad-abad.

Setelah Dewa Lupercus meninggal, maka Santo Valentin lah yang menggantikannya sebagai dewa kasih sayang. Tetapi, suatu ketika kekaisaran Romawi memerlukan sejumlah besar tentara yang dipersiapkan untuk berperang.

Oleh karena itu, Kaisar  memerintahkan untuk tidak melakukan perkawinan, karena menurut Kaisar dengan melakukan perkawinan para tentara perang dikhawatirkan akan mudah lemah dan tidak bersemangat. Namun, apa yang terjadi! Ternyata Santo Valentin merestui perkawinan terselubung seorang muda-mudi yang telah saling mengikat hubungan cinta. Akan tetapi, restu Santo Valentin dari praktek perkawinan terselubung ini, ternyata diketahui oleh Kaisar.

Akibat dari tindakan Santo ini, akhirnya Kaisar menghukum mati Santo Valentin dengan memancung atau memenggal kepalanya di Roma pada tahun 270 M dan mayatnya dikuburkan di tepi jalan Flamenia.

Baru pada masa Kaisar Constantin (280-337) upacara tersebut kembali didesain dan dimodifikasi dengan penambahan pesan-pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis, diletakkan dalam jambangan kemudian diambil para pemudanya.

Kemudian mereka berpasangan dan berdansa yang diakhiri dengan tidur bersama alias zina. Oleh Paus Galasium I seorang pimpinan dewan gereja, pada tahun 494 M mengubah upacara tersebut dengan bentuk rutinitas seremoni porofikasi (pembersihan dosa) dan juga mengubah upacara Lupercalia yang biasanya tanggal 15 Februari menjadi 14 Februari yang secara resmi ditetapkan pada tahun 496 M sebagai Valentin day.

Valentine Day Dalam Perspektif Islam

Setidaknya ada dua dasar pikiran atau pijakan kita dalam melihat dan menentukan, apakah Valentine day dapat diterima dalam ajaran dan tradisi Islam. Dasar pikiran yang pertama, dengan melihat dari segi akar sejarahnya. Dari uraian diatas, jelas bahwa Valentine day bukanlah warisan ajaran peninggalan sejarah para Nabi dan Rasul, melainkan ajaran sejarah Dewa Luparcelia, yang kemudian diteruskan oleh Uskup Santo Valentine salah seorang rahib dalam tradisi agama Katolik pada saat itu.

Sementara dalam perspektif ajaran Islam atau agama-agama hanif (mulai dari Adam sampai dengan Muhammad SAW), bahwa sesuatu pesan baru dianggap sebagai bagian dari ajaran agama ketika pesan ajaran itu disampaikan oleh para Rasul yang kemudian diabadikan oleh wahyu Tuhan.

Di luar dari ketentuan diatas, maka sesuatu perbuatan (apalagi menjadi sebuah momen perayaan) tersebut dianggap menyesatkan dan bisa jatuh kepada hukum syrik.

Dalam hadis Rasul ditegaskan, "Siapa yang menyerupai sesuatu perbuatan kaum, maka ia bagian dari kaum itu". (HR. Bukhori Muslim) hadis ini merupakan, salah satu pernyataan Rasulullah SAW, yang sangat populer dan sering kita dengarkan yang menuntut kehati-hatian kita dalam melaksanakan suatu sistem ajaran, karena kita akan menjadi bagian dari golongan tersebut.

Firman Allah: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya". (QS. Al Isra': 36).

Yang kedua, sistem tata nilai yang terkandung dalam Valentine day jelas sangat bertentangan dengan sistem tata nilai dalam ajaran Islam. Dalam Islam, tidak ditemukan atau diperbolehkan bahkan sangat dilarang keras untuk membangun sebuah pola pergaulan antara pria dan wanita secara bebas.

Karena perbuatan yang demikian telah msuk kedalam kategori zina, yang dalam Islam sangat disuruh menjauhinya. Firman Allah: "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan". (QS. Al Isra': 32). Bahkan seorang lelaki dan wanita yang berkhalawat (berdua-duaan) saja, disuruh untuk menjauhinya, karena syetan laknatullah alaih akan menjadi pihak ketiga dari mereka. Keadaan yang demikian akan menjadi peluang bagi mereka untuk melakukan perbuatan keji (zina).

Sangat tidak bisa diterima akal, jika Valentine day diabadikan sebagai simbolisasi keagungan sebuah cinta, namun dalam realitasnya mereka justru mengangkangi dan menodai makna kesucian cinta.

Coba kita bayangkan, dihari itu para pemuda-pemuda larut dalam hura-hura, pergi ketempat-tempat hiburan, saling bermesraan bahkan tak jarang diantara mereka terjerumus untuk melakukan hubungan seksual secara bebas, tanpa adanya sebuah ikatan yang syah menurut ajaran agama.

Dengan mengatas namakan cinta, banyak kemudian para kawula muda justru tidak lagi memiliki masa depan yang ceria dalam kehidupannya. Karena tidak jarang diantara mereka menjadi korban cinta, ditinggalkan oleh mantan kekasihnya, akibat pergaulan bebas yang kadung sudah terlakukan.

Dari dua dasar pikiran diatas, maka jelaslah merayakan Valentine day dalam kaca mata Islam adalah haram. Dengan demikian diharapkan kepada generasi muda Islam untuk tidak terlibat dalam acara atau kegiatan yang menyesatkan ini.

Islam yang sangat kaya akan konsepsi-aplikatif, sangat banyak memberikan aturan-aturan tentang prilaku kehidupan yang bertujuan dalam menempatkan manusia, pada tempat-tempat yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya. Islam sebagai rahmatan lil alamin sudah dijamin oleh Sang Pemilik Alam ini, akan konsepsi ajarannya sebagai ajaran yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat.

Konsep kasih sayang misalnya, Islam sangat begitu jelas, elegan, humanis, egalitarian, indah dan menyejukkan. Lima belas abad yang lalu Rasulullah SAW, telah menyatakan bahwa: "Tidak beriman seseorang itu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhori Muslim.

Budaya barat tidak sedikitpun lebih aplikabel dari sistem ajaran Islam. Valentine day tidak akan dapat menandingi konsep kasih sayang dan pemaknaan cinta dari pada Islam, karena Islam menempatkan rasa kasih sayang dan cinta tidak hanya berdimensi kemanusiaan yang bersifat temporal-temporal, melainkan didorong atas dimensi ilhiah yang bersifat universal-universal.

Thursday, January 21, 2016

Dalam Kesulitan ada Kemudahan

Betapa banyak kita mendengar berita di Televisi orang - orang yang putus asa dalam menghadapi cobaan hidupnya kian berat hingga tak jarang ada berita bunuh diri dan lain sebagainya. Padahal Allah melarang kita untuk bersikap putus asa. Allah berjanji dalam ALquran bahwa setiap kesulitan akan datangnya kemudahan. Intingya setiap kesulitan yang Allah berikan berarti sudah Allah siapkan juga kemudahan untuk kita


Bersama  Kesulitan  Ada  Kemudahan Wahai  manusia,  setelah  lapar  ada  kenyang,  setelah  haus  ada  kepuasan, setelah  begadang  ada  tidur  pulas,  dan  setelah  sakit  ada  kesembuhan.  Setiap yang  hilang  pasti  ketemu,  dalam  kesesatan  akan  datang  petunjuk,  dalam kesulitan  ada  kemudahan,  dan  setiap  kegelapan  akan  terang  benderang. {Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.} (QS.  Al-Maidah:  52) Sampaikan  kabar  gembira  kepada  malam  hari  bahwa  sang  fajar  pasti datang  mengusirnya  dari  puncak-puncak  gunung  dan  dasar-dasar  lembah. Kabarkan  juga  kepada  orang  yang  dilanda  kesusahan  bahwa,  pertolongan akan  datang  secepat  kelebatan  cahaya-dan  kedipan  mata.  Kabarkan  juga kepada  orang  yang  ditindas  bahwa  kelembutan  dan  dekapan  hangat  akan segera  tiba. Saat  Anda  melihat  hamparan  padang  sahara  yang  seolah  memanjang tanpa  batas,  ketahuilah  bahwa  di  balik  kejauhan  itu  terdapat  kebun  yang rimbun  penuh  hijau  dedaunan.

Ketika  Anda  melihat  seutas  tali  meregang  kencang,  ketahuilah  bahwa, tali  itu  akan  segera  putus. Setiap  tangisan  akan  berujung  dengan  senyuman,  ketakutan  akan berakhir  dengan  rasa  aman,  dan  kegelisahan  akan  sirna  oleh  kedamaian. Kobaran  api  tidak  mampu  membakar  tubuh  Nabi  Ibrahim  a.s.  Dan  itu, karena  pertolongan  Ilahi  membuka  "jendela"  seraya  berkata: {Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.} (QS.  Al-Anbiya':  69) Lautan  luas  tak  kuasa  menenggelamkan  Kalimur  Rahman  (Musa  a.s). Itu,  tak  lain  karena  suara  agung  kala  itu  telah  bertitah, {Sekali-kali  tidak  akan  tersusul.  Sesungguhnya,  Rabb-ku  besertaku,  kelak  Dia akan  memberi  petunjuk  kepadaku.} (QS.  Asy-Syu'ara::  62) Ketika  bersembunyi  dari  kejaran  kaum  kafir  dalam  sebuah  gua,  Nabi Muhammad  s.a.w.  yang  ma'shum  mengabarkan  kepada  Abu  Bakar  bahwa Allah  Yang  Maha  Tunggal  dan  Maha  Tinggi  ada  bersama  mereka.  Sehingga, rasa  aman,  tenteram  dan  tenang  pun  datang  menyelimuti  Abu  Bakar. 

Mereka  yang  terpaku  pada  waktu  yang  terbatas  dan  pada  kondisi  yang (mungkin)  sangat  kelam,  umumnya  hanya  akan  merasakan  kesusahan, kesengsaraan,  dan  keputusasaan  dalam  hidup  mereka.  Itu,  karena  mereka hanya  menatap  dinding-dinding  kamar  dan  pintu-pintu  rumah  mereka. Padahal,  mereka  seharusnya  menembuskan  pandangan  sampai  ke  belakang tabir  dan  berpikir  lebih  jauh  tentang  hal-hal  yang  berada  di  luar  pagar rumahnya. Maka  dari  itu,  jangan  pernah  merasa  terhimpit  sejengkalpun,  karena setiap  keadaan  pasti  berubah.  Dan  sebaik-baik  ibadah  adalah  menanti kemudahan  dengan  sabar.  Betapapun,  hari  demi  hari  akan  terus  bergulir, tahun  demi  tahun  akan  selalu  berganti,  malam  demi  malam  pun  datang silih  berganti.  Meski  demikian,  yang  gaib  akan  tetap  tersembunyi,  dan  Sang Maha  Bijaksana  tetap  pada  keadaan  dan  segala  sifat-Nya.  Dan  Allah mungkin  akan  menciptakan  sesuatu  yang  baru  setelah  itu  semua.  Tetapi sesungguhnya,  setelah  kesulitan  itu  tetap  akan  muncul  kemudahan.